Selasa, 26 April 2011



DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER
( DHF )


A. KONSEP DASAR

1. Pengertian
Dengue haemorrhagic fever ( DHF ) adalah sutu penyakit jerman bart yang sering mematikan disebabkan oleh virus, ditandai peningkatan permeabilitas kapiler, dan kelainan hemostasis ( Nelson, 2000 ).
Dengue haemorrhagik fever ( DHF ) adlah penyakit febris virus akut, sring kali disertai dengan sakit kepala, nyeri tulang ataupun sendi, otot, ruam dan leucopenia ( Monika Ester ,1998 ).
Dengue haemorrhagik fever ( DHF ) adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aedes ( St. Karolus, 1997 ).
Dengue haemorrhagik fever ( DHF ) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus ( Arthopodborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes ( aedes albopictus dan Aedes aegypti ) ( Ngastiyah, 1997 ).

Kesimpulan
Dengue haemorrhagik fever ( DHF ) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh arbovirus dan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti ditandai dengan adanya peningkatan permeabilitas kapiler, sakit kepala, nyeri tulang atau sendi, ruam dan leucopenia.



2. Etiologi
Arbovirus ( Arthopodborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes albopictus dan Aedes aegypti ) (Ngastiyah< 1997 ).




3. Proses penyakit
Masuknya arbovirus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menyebabkan tubuh membentuk anti spesifik dalam darah akan dilepaskan dan terbentuklah antigen antibody yang menempel pada dinding pembuluh darah akan mengeluarkan zat mediator peradangan seperti bradikinin dan histamine serta adanya respon peradangan yang dapat meningkatan suhu tubuh ( Hipertarmi ) pada system komplemen akan melepaskan anafilaktosin yang dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah yang akan menyebabkan kebocoran plasma dan aliran darah ke vaskuler menjadi menurun dan kejaringan juga menurun, jika kejaringan otak akan menyebabkan penurunan kesadaran, jika aliran kevaskuler menurun dan banyak cairan diekstavskuler dan menumpuk dirongga pleura akan menyebabkan epusi pleura.
Jika kelompok antigen antibody menempel pada pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan terputusnya kontinuitas jaringan pembuluh darah yang dapat menyebabkan aliran darah menurun dimana oksigen yang dibawa oleh darah menurun, mengakibatkan metabolisme anaerob dan timbul gejala lemah. Agresi trombosit dapat memusnahkan system retikulo endotel ( RES ) akan menyebabkan spenomegali akan timbul gejala mual, muntah dan trombositopenia dapat meningkatkan trombosit tidak mampu lagi menyumbat kapiler karena kerja dari trombosit sebagai pembekuan darah terganggu dan darah yang keluyar dari kapiler menumpuk dibawah kulit dan terdapat ptekie ( Ilmu Kesehatan anak jilid 2, Jakarta, FKUI ).


5. Manifestasi klinis.

• Demam yang terus menerus selama 1-5 hari
• Lemah
• Nafsu makan berkurang
• Mual muntah
• Nyeri pada kedua sampai ketiga demam muncul bentuk perdarahan seperti perdarahan dibawah kulit ( petekie ) perdarahan gusi, epistaksis, sampai perdarahan hebat sampai muntah darah akibat perdarahan lambung, melena dan hematuri
Menurut WHO pada tahun 1986, DHF klasifikasikan berdasarkan beratnya derajat penyakit, secara klinis dibagi menjadi :
Derajat I : demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdaraahan sepontan
Derajat II : derajat I dan disertai sepontan pada kulit atau ditempat lain.
Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekana darah rendah ( hipotensi ),gelisah,sianosis sekitar mulut,hidung dan ujung jari ( tanda-tanda dini rajatan )
Derajat IV : komplikasi mulas

6. Komplikasi

a. perdarahan luas, seperti Heppatomegali.
b. Syok
c. Pleural effusion
d. Penurunan Kesadaran

7. Penatalaksanaan medis

a. test diagnosa
• pemeriksaan labolatorium darah
IgG dengue: positif, Trombosit : menurun ( trombositomenia ); Hematokrit meningkat : lebih dari 20 %, merupakan indicator akan timbilnya rejatan ; Hemogolobin meningkat : lebih dari 20 % lekosit’ menurun ( lekopenia )
• pemeriksaan urine
albuminuria
• foto torak
pleura effusion
b. Terapi
• Pemberian antipiretik seperti paracetamol untuk mengatasi demam.
• Pemberian cairan intra pena ( biasanya ringer laktat, NsCL ) dalam keadaan syok berat diberikan cairan Ringer Laktat Secara cepat ( diguyur ) slama 30 menit.jika terjadi perdarahan, anjurkan untuk pemberian transfuse.
• Pemberian antibiotic bila terdapat tanda-tanda infeksi sekunder.
• Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam
• Diet makanan lunak

B. Asuhan Keperawatan

1. Penkajian Keperawatan

a). identitas klien

nama,umur,( pada DHF paling rinci sring menyerang anak-anak dengan usia kurang dari 15 tahun ), Jenis kelamin, Alamat,Pendidikan
b). keluhan utama
alasan/keluhan yang menomjol pada pasien DHF untuk datang kerumah sakit adalah panas tinggi dan anak lemah
c). Riwayat penyakit Sekarang
didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai mengigil dan saat demam kesadaran kompos menthis. Turunya panas terjadi antara hari ke -3 dan ke-7.dan anak smakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk,pilek ,mual.muntah,anareksia,diare/konstipati,sakit keepala,nyeri otot dan persndian,nyeri uluhati dan p[ergerakan bola mata terasa pegal,serta adanya manipestasi pendarahan pada kulit, gusi, ( grade III, IV ) melena atau hemastemesis
d). riwayat penyakit yang pernah diderita
penyakit apasaja yang pernah diderita , pada DHF anak biasa mengalami serangan DHF dengan type Virus lain
e). riwayat imunisasi
apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan
f). Riwayat Gizi
setatus GiZi anak yang menderita DHF dapat berfariasi, semua anak yang bersetatus gizi baik maupun bunruk dapat berisiko, apabila terdapat paktor predisposisinya anak yang menderita DHF, sering menghalami keluhan mual, muntah dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat megalami penurunan berat badan sehingga setatus gizi nya menjadi kurang.
g). kondisi lingkungan
sering terjadi didaerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih ( seperti air yang mengenang dan gantungan baju dikamar )
h). Pola Kebiasaan
1. Nutrisi dan metabolisme : frekuwensi , jenis,pantangan,nafsumakan berkurang ,nafsu makan menurun
2. eliminasi alvi ( buang air besar ) kadang-kadang anak mengalami diare/kontifasi.sementara DHF pada grade III – IV sering terjadi melena.
3. Eliminasi urine ( buang air kecil ) perlu dikaji apakah sering kencing,sedikit/tidak.pada DHF grade IV hematuri
4. tidur dan istirahat, anak sering menegalami kurang tidur karena sering mengalami sakit / nyeri otot dan persendian sehinga kualitas dan kuantitas tidur maupun istirahat kurang
5. kebersihan, Upaya keluarga untuk menjaga keberihan diri dan lindkungan cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang yamuk aedes aegypti.
6. perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan
i). pemeriksaan Fisik
pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi, palpasi, auskultrasi, dan perkusi, dari ujung rambut sampai ujung kaki.berdasarkan tingkatan ( grade ) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut :
1. Grade I : kesadaran kompasmenthis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah.
2. Grade II : kesadaran kompasmenthis, keadaan umum lemah, ada perdarahan sepontan,petikie, perdarahan gusi, dan telinga, serta nadi lemah, kecil dan tidak teratur
3. Grade III : kesadaran apatis, samnollen, keadaan umum lemah,nadi lemah, kecil dan tidak teratur
4. Grade IV : kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak teratur, pernafasan tidak teratur, ekstermitas dingin, berkeringat dan kulit tanpak biru.
J). Sistem Integumen
1. Adanya petekie pada kulit, turgor kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab.
2. kuku sianosis / tidak
3. kepala dan leher. Kepela terasa nyeri, muka tanpak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan ( epistaksis ) padsa grade II,III dan IV. Pada mulut didapatkan mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan telinga
4. Dada, bentuk simentris dan kadang-kadang terasa sesak, pada foto torax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan ( efusi plaura ). Rares (+), Ronchi (+), yang biasanya terdapat pada grade III dan IV
5. Abdomen mengalami nyeri tekan, pembesran hati ( hepatomegali ) dan esites.
6. Ekstremitas, akral dingin, serta terjadi nyeri otoy, sendi serta tulang

2. Diagnosa Keperawatan
Dibawah ini adalah beberapa diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada pasien DHF , Hepatomegali dan spleenomegrafi.
a. peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peruses ppenyakit
b. kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan berpindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
c. resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
d. Gangguan pemenuhan nurtisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah, anoreksia
e. Cemas berhubungan dengan danfak hospitalisasi
f. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, perawatan dan pencegahan berhubungan dengan kurangnya informasi.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan I
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah hipertemi teratasi
Criteria hasial : a. suhu tubuh normal ( 36-37 derajat )
c. kliien bebas dari demam
rencana Tindakan : a. mengkaji timbulnya demam
b. Observasi tanda-tanda vital setiap 6 jam
c. anjurkan pasien untuk banyak minum 1000 cc 24 jam ( sesuai kebutuhan )
d. berikan kompres dingin
e. anjurkan untuk tidak memakai selimut dan jaket teba
f. beriukan teravi cairan intravena dan obat-obatan sesuai dengan program dokter ( obat antiperik )
Diagnosa Keperawatan II
Tujuan : setelah dilakuakan tindakan keperawatan masalah kekurangan volume cairan dapat diatasi
Criteria hasil :turgor kulit elastis, mukosa bibir lembab, intek dan output seimbang , nilai hematokrit dalam batas normal 9 34 %-45 % ) dan tanda-tanda vital TD: 11./ 70, Nadi: 80 kali permenit dan suhu 36 derajat celcius.
Rencana tindakan : a. kaji keadaan umum pasiien
b. obserpasi tanda-tanda vital, adanya tanda-tanda kekurangan volume cairan seperti turgor kulit tidak elastis, mukosa bibir lembab, intek output tidak seimbang
c. berikan cairan intra vena ( sesuai order dokter )
d. anjurkan klien untuk bnyak minum
e. monitor intek-output
f. monitor laboratorium darah terutama henmatokrit
Diagnosa keperawatan III
Tujuan : stelah dilakukan tindakan keperawatan masalah pendarahan tidak terjadi.
Criteria Hasil : a. TTv dalam batasan normal
b. monitor jumlah trombosit setiap hari
c. gunakan sikat gigi berbulu halus saat mengosok gigi
d. lakukan pemeriksaan labolatorium darah Hb,Ht,trombosit dan gunakan jarum suntik ukuran kecil saat mengambil darah
Diagnosa Keperawatan IV
tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah kebutuhan nutrisi terpenuhi
criteria hasil : klien menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan , BB meningkat
rencana tindakan : a. kaji keluhan mual, muntah yang dialami pasien
b. beri makan dalam porsi kecil dan frekuensi sering
c. catat jumlah porsi makan yang dihabisakan oleh pasien setiap hari
d. berikan nutrisi parentral jumlah asupan peroral tidak ada
e. berikan obat-obatan antasida ( anti ematik )
f. timbang berat badan setiap hari
Diagnosa keperawatan V
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah kurang pengetahuan keluarga teratasi
Kretria hasil : keluarga mampu menyebutkan tentang DHF dan pencegahannya
Rencana tindakan :
a. kaji tingkat pengetahuan klien / keluarga tentang penyakit DHF
b. kaji latar belakang pendidikan pasin / keluarga
c. jelaskan tentang perawatan dan pencegahan pada klien DHF

















DAFTAR PUSTAKA


Cristin Effendi, Skp. (1995) Perawatan pasien DHF Buku Satu Jakarta EGC
Doengoes, Marilynn. E.E (1999) Rencana Asuhan Keperawatan . Edisi III. Jakarta : EGC.
Nelson . (2000) Ilmu Kesehatan Anak. Volume 2 Jakarta : EGC.
Ngastiah. (2005) Perawatan Anak Sakit .Jakarta: EGC.
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1997) Ilmu Kesehatan Anak. Jilit 2 Jakarta : FKUI
Panitia S.A.K St, Carolus (1997) Setandar Asuhan Keperawatan Demam Berdarah dengue (DBD) : Jakarta St.carolus.
Woni Dona. ( 2004). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.


BRONCHOPENEUMONIA


A. PENGERTIAN
Bronchopeneunonia adalah penyakit virus pada saluran pernafasan bawah yang ditandai peradangan bronkioli yang lebih kecil
(Cecily, L. Betz 2002)
Bronchopeneunonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada parenchyma paru yang terjadi pada anak
(suraidi, 2001)
Bronchopeneunonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus dan jamur, serta benda asing
(Ngastiah, 1997)
Dari beberapa definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bronkopeneumonia adalah salah satu ganggun pernafsan yang disebabkan oleh virus, jamur, serta benda asing yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada bronkioli paru.



B. PATOFISIOLOGI
Etiologi
Penyebabnya ialah :
Bakteri : pneumococus, Streptococcus aureus, Basil gram negative, Mycrobakterium tuberculosis
Virus : Virus influenza, Adenovirus, Virus sitomegali
Aspirasi : makanan dan benda asing
Jamur : Histoplasmosis capsolatum, Candidaalbicans, Blastomikrisis, Kalsidomis, Domicacis aspergilosis, dan Actinomikosis.

C. MANIFESTASI KELINIS
a. demam tinggi kadang-kadang disertai kejang
b. batuk
c. Reles ( Ronki )
d. Anak sangat gelisah
e. Dispnea
f. Pernafasan cepat dan dangkal
g. Nyeri abdomen
h. Kadang-kadang disertai muntah dan diare
i. Tidak nafsu makan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto Thorak
2. Labolatorium : pemeriksaan darah ( Leukosit ) Pemeriksaan urin ( Ureum )

E. KOMPLIKASI
 Atelektiasis ( kolap pada satu atau lobus paru )
 Efusi pleura ( kumpulan cairan pada ruang pleura )
 Abses paru ( kumpulan material eksudat dalam parenkim paru )
 Pleuritis ( radang paru dan mengakibatkan nyeri yang disebabkan oleh gesekan antara lapisan paru )
 Perikardiyis ( radang pada pericardium yang disebabkan oleh penyebaran secara hematogen oleh mikroorganisme )
 Empiema ( pertahanan pada rongga dada )
 Bakteremia

E. PENATALAKSANAAN
1. Medis
a. terapi
 Penicillin 50000 u/kg BB ditambah dengan kloramfenicol 50- 70 mg/kg BB/hari atau diberikan antibiotic yang mempunyai spectrum luas, seperti snficilin pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4- 5 hari.
 Pemberian cairan intravena dan oksigen biasanya dicampurkan glukosa 5 % dan NaCL 0,9% dalam perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCL 10 mEq /500 ml /botol infuse.
 Pasienyang asidosis metabolic akibat kurang makan dan hipoksia maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisa gas darah dan berikan inhalasi sesuai indikasi.
b. keperawatan
 Menjaga kelancaran pernafasan ( memberikan O2, berikan posisi semi fowler, longgarkan pakaian yang menyekat, isap lender )
 Kebutuhan nutrisi dan cairan ( memberikan makanan lunak dan susu , infuse)
 Mengontrol suhu tubuh ( kompres dingin )
 Memenuhi kebutuhan istirahat klien
 Memberikan penyuluhan

F. PENGKAJIAN
Pernafasan
Gejala : pernafasan dangkal
Tanda : terdapat sefuntum, bunyi nafas ronkhi dan wheezing.
Sirkulasi
Tanda : penampilan kemerahan, atau pucat
Makanan/ cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan,mual dan muntah
Tanda : malnutrisi, kulit kering dengan turgor kulit buruk
Nyeri/ kenyamanan
Gejala : sakit kepala nyeri dada,batuk
Aktifitas/ istirahat
Gejala : kelemahan,kelelahan
Tanda : penurunan toleransi terhadaf aktifitas

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafastidak efektif b/d peningkatan sputum
2. Perubahan pola nafas b/d penurunan kapasitas paru
3. Ganguan perfusi jaringan b/d penurunan pertukaran gas
4. Deficit folume cairan b/d kehilangan volume cairan berlebih
5. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi

H. RENCANA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan sepuntum
Tujuan : jalan nafas efektif
Criteria hasil: obstruksi tidak terjadi, ( sepuntum tidak ada ) ronkhi tidak ada, RR 20-30 x/ mnt, suara nafas vesikuler.
Intervensi : kaji frekuensi kedalaman pernafasan, auskultrasi area paru, catat adanya kreleks ,mengi, penghisapan sesuai indikasi, berikan air hangat.


2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan volume cairan terpenuhi.
Kritria hasil : Membran mukosa lembab,turgor kulit baik ,pengisian kapiler cepat,TTV stabil,blance seimbang.
Intervensi : Observasi perubahan TTV, observasi turgor kulit, kelembaban memberan mukosa., catat laporan mual muntah, Pantau intake dan out put cairan tekanan asupan cairan setidaknya 1500 ml/ hari atau sesuai dengan kondisi individu

3. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan informasi
Tujuan : Pengetahuan keluarga bertambah
Criteria hasil : Keluarga mengerti dan memahami tentang sakiat anaknya
Intervensi : Kaji ketingkat kecemasan orang tua, kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang anaknya, beri informasi dan tentang perawatannya

4. Devicit volume cairan b/d kehilangan cairan berlebih
Tujuan : Setelah dilakukan tundakan keperawatan selama……x24jam diharapkan volume cairan terpenuhi
Criteria hasil : Membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler baik, tanda vital normal; nadi 20x/menit, Td 120/80 mm/hg, suhu 36 drjt C.
Intervenci : Obserfasi tanda vital, observasi turgor kulit, kelembapan membrane mukosa, catat laporan mual muntah, pantau intake output cairan, asupancairan sedikitnya 1500ml/hari atau sesuai kondisi indifidua.
5. Kurang pengetahuan kelurga b/d kurangnya informasi
Tujuan : setelah diberikan pendidikan kesehatan selama ….menit diharapkan kurangnya pengetahuan pada keluarga dapat teratasi
Kriteri hasil : keluarga mengrti dan memahmi tentang penyakit yang didrita klien
Intervensi : kaji tingkat kcemasan orangtua, kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit yang diderita oleh klien, beri informasi tentang perawatnnya.



DAFTAR PUSTAKA

Laksamana, Hendra, T. Kamus Kedokteran .2005. Jakarta .EGC

Wong. Donna L. PEDOMAN KLINIS KEPERAWATAN PEDIATRIK. Edisi 4 2004. JAKARTA .EGC.

Noastiah .perawatan anak sakit. 2005.edisi 2 .Jakarta .EGC.

Suriadi .Asuhan Keperawatan Anak.edisi 1.2001 Jakarta EGC



HEPATITIS

A.    DEFINISI
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difusi pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
Hepatitis adalah merupakan inflamasi hati dapat terjadi karena invasi bakteri, cedera oleh agen fisik atau kimia (non-viral), atau infeksi virus (hepatitis A, B, C, D, E).
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)



B.     ETIOLOGI
  1. Virus

Type A
Type B
Type C
Type D
Type E
Metode transmisi
Fekal-oral melalui orang lain
Parenteral seksual, perinatal
Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal
Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B

Fekal-oral
Keparah-an
Tak ikterik dan asimto- matik
Parah
Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis
Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut

Sama dengan D
Sumber virus
Darah, feces, saliva
Darah, saliva, semen, sekresi vagina
Terutama melalui darah
Melalui darah
Darah, feces, saliva

  1. Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.

  1. Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.

C.    PATHOFISIOLOGI
1. Manifestasi Klinis
  1. Masa tunas
Virus A : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus B : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus non A dan non B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)
  1. Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B.

  1. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
  1. Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.
2.                   Proses Penyakit
Hati yang normal halus dan kenyal bila disentuh. Ketika hati terinfeksi suatu penyakit (misalnya Hepatitis C), hati menjadi bengkak. Sel hati mulai mengeluarkan enzim alanin aminotransferase ke darah. Dengan keadaan ini dokter dapat memberitahu anda apakah hati sudah rusak atau belum. Bila konsentrasi enzim tersebut lebih tinggi dari normal, itu adalah tanda hati mulai rusak. Sewaktu penyakit hati berkembang, perubahan dan kerusakan hati meningkat.

Fibrosis
Setelah membengkak, hati mencoba memperbaiki dengan membentuk bekasluk atau parut kecil. Parut ini disebut “fibrosis”, yang membuat hati lebih sulit melakukan fungsinya. Sewaktu kerusakan berjalan, semakin banyak parut terbentuk dan mulai menyatu, dalam tahap selanjutnya disebut “sirosis”.

Sirosis
Kerusakan yang berulang, area besar hati yang rusak dapat menjadi permanen dan menjadi koreng. Darah tidak dapat mengalir dengan baik pada jaringan hati yang rusak. Hati mulai menciut dan menjadi keras. Penyakit Hepatitis C kronis biasanya dapat menyebabkan sirosis sama seperti kelebihan mengkonsumsi minuman beralkohol

Fungsi hati rusak.
Sewaktu sirosis bertambah parah, hati tidak dapat menyaring kotoran, racun, dan obat yang ada dalam darah. Hati tidak lagi dapat memproduksi “clotting factor” untuk menghentikan pendarahan. Cairan tubuh terbentuk pada abdomen dan kaki, pendarahan pada usus sering terjadi, dan biasanya fungsi mental menjadi lambat. Pada titik ini, transplantasi hati adalah pilihan satu-satunya.
Kanker hati.
Kadang kala kerusakan sel hati diikuti dengan perubahan gen sel yang mana dapat menjadi kanker. Pasien Hepatitis C kronis memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita “hepatocellular carcinoma”, suatu tipe tumor hati.
Pencegahan Kerusakan Hati
Sirosis dapat dihentikan dan kadang kala dapat dicegah. Untuk pasien Hepatitis C kronis, sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati dimana sirosi lebih buruk. Selain itu, jika anda penderita penyakit Hepatitis C hindari alkohol secara total. Juga jangan minum alkohol dengan acetaminophen (merupakan kandungan obat sakit kepala dan flu), karena bila dikonsumsi berbarengan dapat menyebabkan kondisi “hepatitis fulminant”, yang dapat menyebabkan fungsi hati rusak total.

D.    KOMPLIKASI
Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.
E.     PENGKAJIAN
Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati
    1. Aktivitas
      • Kelemahan
      • Kelelahan
      • Malaise
      •  
    2. Sirkulasi
      • Bradikardi ( hiperbilirubin berat )
      • Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
    3. Eliminasi
      • Urine gelap
      • Diare feses warna tanah liat
    4. Makanan dan Cairan
      • Anoreksia
      • Berat badan menurun
      • Mual dan muntah
      • Peningkatan oedema
      • Asites
    5. Neurosensori
      • Peka terhadap rangsang
      • Cenderung tidur
      • Letargi
      • Asteriksis
    6. Nyeri / Kenyamanan
      • Kram abdomen
      • Nyeri tekan pada kuadran kanan
      • Mialgia

      • Atralgia
      • Sakit kepala
      • Gatal ( pruritus )
    1. Keamanan
      • Demam
      • Urtikaria
      • Lesi makulopopuler
      • Eritema
      • Splenomegali
      • Pembesaran nodus servikal posterior
    2. Seksualitas
      • Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan



F.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis :
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
  3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar
  4. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
  5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
  6. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus
G.    INTERVENSI
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
1.      Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
R/ keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan
2.      Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering
R/ adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
3.      Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
R/ akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
4.      Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
5.      Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
R/ glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar.

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Hasil yang diharapkan :
Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
1.      Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
2.      Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri
·         Akui adanya nyeri
·         Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya
R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri
3.      Berikan informasi akurat dan
·         Jelaskan penyebab nyeri
·         Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding klien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)
4.      Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.

  1. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar.
Hasil yang diharapkan :
Tidak terjadi peningkatan suhu
1.      Monitor tanda vital : suhu badan
R/ sebagai indikator untuk mengetahui status hypertermi
2.      Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari.
R/ dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi
3.      Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur
R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan


4.      Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
R/ kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga akan mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.

  1. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
1.      Jelaskan sebab-sebab keletihan individu
R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan maka keadaan klien cenderung lebih tenang
2.      Sarankan klien untuk tirah baring
R/ tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.
3.      Bantu individu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan minat-minat
R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan yang kurang penting
4.      Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama 24 jam meliputi waktu puncak energi, waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan
R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan
5.      Bantu untuk belajar tentang keterampilan koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi)
R/ untuk mengurangi keletihan baik fisik maupun psikologis
  1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.


Hasil yang diharapkan :
Pola nafas adekuat
Intervensi :
  1. Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan
R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen
  1. Auskultasi bunyi nafas tambahan
R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan
  1. Berikan posisi semi fowler
R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret
  1. Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif
R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi lemak
  1. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia




  1. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus

Hasil yang diharapkan :
Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
  1. Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen
  • Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh
  • Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun
R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode transmisi virus hepatitis
  1. Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi
R/ teknik ini membantu melindungi orang lain dari kontak dengan materi infeksius dan mencegah transmisi penyakit
  1. Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan kesehatan.
R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang merusak rantai transmisi infeksi
  1. Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat
R/ rujukan tersebut perlu untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi
H.    PELAKSANAAN
1.      Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering
·       Sering mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin)
·       Keringkan kulit, jaringan digosok
2.      Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal
3.    Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk
4.    Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat
I.       EVALUASI


Evaluasi adalah langkah terakhir dari proses kkeperawatan dengan cara melakukan identiifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawataan tercapai atau tidak.
Hasil yang di harapkan:
Ø  Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
Ø  Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
Ø  Tidak terjadi peningkatan suhu
Ø  Pola nafas adekuat
Ø  Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.











DAFTAR PUSTAKA
Gallo, Hudak, 1995, Keperawatan Kritis, EGC, Jakarta.
Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta.
Reeves, Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono, Edisi I, jakarta, Salemba Medika.
Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.
Sjaifoellah Noer,H.M, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, jakarta.